Kesudahannya Dibawa Pulang Saja Obatnya Oleh: Zainal Masri
Sejak Aktifitas kerja di Era new normal mulai berjalan, Pak Aman sebagai guru Agama hanya bisa tersenyum ketika rekan-rekan kerjanya berkata corona (covid 19) itu tidak ada. Ia tidak bersikap egois dan Sok mengajari dan bukan pula tidak percaya sebagai orang alim. Di situasi Bumi yang dilanda Pandemi Covid 19 Dewasa ini.
Namun Masih bisa bergurau dan becanda tawa walau dibalik semua itu sebenarnya hati mengerutu.
Biasa, sebagai guru agama, yang tau halal dan haram, mengerti mana yang pantas dan mana yang tercela. Kenal Tuhan yang maha kuasa. Pak Aman memilih dan taat kepada apa yang dihimbau oleh pemerintah, yang bekerjasama dengan Ahli kesehatan dan MUI. Jaga Kebersihan.
Hingga, suatu pagi saat Pak Aman berada di kantor, Rekan-rekan kerja nyaris semua menyindir seolah-olah yang mengerti agama saja kok masih ragu akan takdir Tuhan. ketika Pak Aman memilih taat kepada Fatwa MUI dan himbauan pemerintah dalam menyikapi covid 19. Rekan-rekan kerjanya tidak percaya sama sekali keberadaan virus yang tidak terlihat nyata itu.
" Kelihatannya ini politik saja, Kok lebih takut Corona daripada Tuhan, ulama apa namanya itu, Bagaimana menurut Pak Aman, karena Pak Aman kan guru agama, apakah yakin corona itu ada?" Kata Komandan kepada Pak Aman setelah selesai membaca sebuah berita di medsos dihadapan rekan-rekan yang lain.
"Tidak mudah bagi aku untuk berkata yakin atau tidak sama sekali. Tapi aku yakin virus itu ada dengan merujuk apa yang dihimbau oleh pemerintah dan Ahli kesehatan. Jadi segala sesuatu ini nampaknya, ya, serahkan ke ahlinya" jawab Pak Aman sambil membuka hand phonnya membaca himbauan MUI dan Dewan masjid indonesia beberapa hari yang lalu.
Lagi-lagi Komandan yang ego nya cukup tinggi, tidak puas dengan jawaban itu, malah justru semakin membuatnya ingin berdebat di hadapan rekan-rekannya yang lain tentang Corona ini.
"Menurut Pak Mister bagaimana, yakin pak ada Virus Corona ini?" kata Pak Aman, yang masih membaca layar hpnya. Rupa-rupanya Pak Mister se ide dengan Komandan.
"saya tidak, virus buatan orang kafir aja itu, supaya kita tidak boleh ke masjid dan beraktifitas. Ditakut-takutilah kita ini dengan banyak meninggal sekarang gara-gara Corona. Dulu tidak ada corona, yang akan mati itu mati juga, saya tetap juga ke masjid walau pemerintah melarang. Kata Pak Mister yang juga seide dengan kepala yang baru mengisi daftar hadir di mejanya.
"Saya juga tidak yakin corona ini ada, kita disuruh dirumah saja 14 hari. Dengan apa kita makan dan belanja, mati tidak makan yang akan terjadi," kata Buk Mimin sambil menulis-nulis buku di mejanya.
Berhari-hari perdebatan dan perang mulut tentang Corona virus itu terjadi, telah merusak keharmonisan hubungan sosial sesama rekan kerja.
Tapi kata Pak Aman di dalam hatinya "mungkin ini ujian bagiku, aku yang taat himbauan pemerintah dan MUI serta ahli kesehatan, aku tidak mau bersikap seperti guru yang mengajari anak muridnya, karena yang aku hadapi bukan anak-anak TK lagi. Aku hanya ingin meyakinkan pendapatku ini agar bisa dipertimbangkan oleh komandan dan rekan-rekan kerjaku dengan bijaksana menyikapi persoalan yang kursial ini.
Pak Aman tersenyum, lalu hatinya berkata; teman-teman kerja ku memang hebat dan kuat keimanannya. ya, memang corona itu tidak kelihatan, hidup dan mati itu ditangan Tuhan. Tapi kita kan perlu hati-hati dan waspada terhadap wabah tersebut. Kehati-hatian itu adalah jalan keselamatan, sedang ceroboh yang tanpa ilmu dan perhitungan, bisa menimbulkan penyesalan.
Berhari-hari Pandemi covid 19, masih melanda dunia ini, bukan hanya merusak perekonomian, kesehatan tapi yang lebih parah lagi adalah merusak hubungan dengan sesama kita. Akibat perdebatan dan merasa diri paling benar. Hingga hari terakhir pembagian hasil belajar perselisihan akibat perdebatan itu masih ada. Hingga sabar Pak Amanpun habis kesabarannya.
"Saya kadang-kadang benci lihat orang sekarang. Orang sekarang ini lebih takut Corona daripada Takut, Tuhan. Kan iya Pak Aman? Contohnya Pak Aman ini" Ujar komandan lagi-lagi sambil menyindir Pak Aman terang-terangan.
Akhirnya, pak Aman tak kuasa menahan sindiran itu lagi.
"Pak, Saya bukan Lebih takut Corona daripada Tuhan. Tapi justru karena saya takut kepada Tuhanlah saya mendekat Kepada Nya, dan menghindar dari Corona" Jawab pak Aman dengan serius.
"Kalau ia Orang takut Tuhan daripada Corona. tidak mungkin tak berani salat ke masjid. Ini ngak, lebih taat kepada himbauan pemerintah daripada kepada himbauan Tuhan" celotehan komandan sambil ketawa sinis.
Pada Puncaknya, ya, pak Aman akhirnya dengan nada datar, tapi tegas menusuk ke hati berikan pemahaman.
Tidak semudah itu berkata dan menilai seseorang lebih takut Corona daripada Tuhan, Pak. Kalau ditanya saya. Saya yakin corona itu ada. Siapa yang berkata? Pemerintah, dan Ahli kesehatan. Sebab saya tidak mengetahui tentang itu. Alquran Qs. Annahal: 43:
فسا لوأَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
... bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui...
Jadi, kalau kita bertahan dengan argument kita, ya, kita ini siapa? Paham apa dengan Corona ada atau tidaknya? Kalau kita katakan tidak ada. Siapa yang akan yakin? Dokter tidak, Penguasa bukan, MUI apalagi.
Seharusnya kita, ya, jadi orang itu bijaklah. Belajar, pahami apa yang dikatakan para Ahli. Artinya mengikuti prosedur yang sudah ditetapkan oleh Ahli Kesehatan dan diakui oleh Negara. Itu menjadi wajib. MUI sudah mengeluarkan fatwa terkait Corona. Maka Umat kita wajib membersihkan diri, waspada, jangan sampai kena Corona. Bahkan Dewan masjid Indonesiapun pada waktu itu telah membuat edaran. Ke masjidpun kalau kita sakit, tidak ada masalah, ditunda dulu. Jangan salah dimengerti, Jangan kita katakan MUI melarang ke masjid. Yang dimaksud nya pelihara diri kita, orang lain juga jangan sampai kena musibah ini.
Suasana jadi hening, dan tak satupun yang berani membantah. Pak Amanpun tidak melanjutkan lagi perdebatannya, hingga kesudahannya dibawa pulang saja obatnya ke rumah masing-masing.(*)
Komentar
Posting Komentar