ISU POKOK PEMIKIRAN ISLAM DALAM BIDANG TASAUF
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Islam adalah agama yang oleh umatnya diyakini mengandung
seperangkat nilai dasar untuk menuntun kehidupan manusia guna mencapai
kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Sebagai ajaran agama yang utuh dan
lengkap, Islam tidak sekedar memberi perhatian terhadap satu dimensi kehidupan,
katakanlah jasmani semata tapi juga menekankan aspek rohani. Keduanya harus
berada pada suatu keseimbangan. Islam senantiasa memberi tempat bagi
penghayatan keagamaan yang bersifat eksoteris (zhahir, lahiriyah) maupun
esoterik (bathini) sekaligus.[1]
Dengan tetap berpijak pada orbit keseimbangan. Artinya sikap ekstrimitas
terhadap salah satu aspek semata bisa menimbulkan kepincangan dan menyalahi
prinsip keseimbangan dimaksud.
Kendati demikian, pada kenyataannya prilaku penghayatan keagamaan
umat Islam terbagi dua kelompok, yang satu menitik beratkan penghayatan
keagamaan pada ketentuan-ketentuan luar (al-Ahkam al-Zhawahir, yakni
segi-segi lahiriah) dan satu kelompok lain, lebih menitikberatkan pada
ketentuan dalam atau segi batiniyah.[2]
Kelompok terakhir inilah yang kemudian dikenal sebagai ahli tareqah atau
ahli tasawuf.
Dalam makalah ini penulis berupaya mendeskripsikan dan menjelaskan
esensi dan eksistensi tasauf, sebagai salah satu khazanah (kekayaan) intelektual Islam yang memiliki implikasi
besar khususnya dalam pembinaan
akhlak, baik akhlak kepada Allah maupun
kepada sesama makhluk di era modern saat ini.
B. Rumusan Masalah
Dari deskripsi yang dikemukakan pada
latar belakang di atas, dapat dikemukakan permasalahan sebagai berikut:
1.
Esensi Tasauf
2.
Eksistensi Tasauf
C. Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan pembahasan ini adalah untuk menjelaskan materi tentang esensi dan eksistensi tasauf
BAB
II
ISU POKOK PEMIKIRAN ISLAM DALAM BIDANG
TASAUF
A.
Esensi Tasauf
1. Pengertian Tasauf
Kata tasawuf mulai dipercakapkan sebagai suatu istilah
sekitar akhir abad kedua hijriah yang dikaitkan dari pada salah satu jenis
pakaian kasar yang disebut shuff atau wool kasar. Kain sejenis itu sampai digemari oleh para zahid,
sehingga menjadi simbol kesederhanaan pada masa itu. Menghubungkan sufi atau
tasawuf dengan shuff, tampaknya cukup beralasan yakni antara jenis
pakaian yang sederhana dengan kebersahajaan hidup para sufi. Kebiasaan memakai
wool kasar juga sudah merupakan karakteristik kehidupan orang saleh sebelum
datangnya Islam, sehingga mereka dikatakan dengan sufi atau
orang-orang yang memakai shuff. Sementara tasawuf diberikan legitimasi
terhadap orang yang hidup pada masa nabi sebagai ahli shuffah, di mana
mereka itu selalu berkumpul di serambi masjid Nabi (ahli shuffah). Cara
hidup sholeh dalam kesederhanaan yang dipaparkan oleh kelompok itu, kemudian
menjadi pola panutan bagi sebagian umat Islam yang kemudian disebut sufi.dan
ajarannya dinamai tasawuf. Ada pula yang berpendapat bahwa kata tasawuf berasal dari bahasa Yunani,
yakni sophos yang berarti hikmah dan keutamaan. Menurut pendapat ini, para sufi
adalah pencari hikmah atau ilmu hakikat pendapat lain memperkirakan kata sufi berasal dari shafa atau shafwun
yang berarti bening karena hati sufi yang selalu bening sementara lainnya
mengatakan, kata sufi berasal dari shaff atau barisan karena para sufi selalu
berada pada barisan terdepan dalam mencari keridhaan Ilahi. .[3]
Dari serangkaian defenisi yang ditawarkan para ahli
ada satu asas yang disepakati terkait dengan ajaran tasawuf, yakni tasawuf
adalah moralitas yang berasaskan Islam. Dengan kata lain, bahwa pada prinsipnya
tasawuf bermakna moral dan semangat Islam, karena seluruh ajaran Islam dari
berbagai aspeknya adalah prinsip moral.[4]
Dalam berbagai buku tasauf menurut Abdul Qadir Al Suhrawardi ada lebih
seribu defenisi istilah ini tapi pada umumnya berbagai defenisi mengandung
makna saffa artinya suci, wara’ artinya kehati-hatian agar tidak
melanggar ajaran agama dan ma’rifah artinya pengetahuan tentang
ketuhanan atau hakikat segala sesuatu. Tetapi kepada apapun dirujukan bahwa
kata ini terkait dengan kata saffa yang berarti suci pada gilirannya
bermuara pada alquran tentang penyucian hati. Seperti yang dijelaskan dalam Qs.
Asy syam: 7-10. [5]
Artinya : Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah
mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. sesungguhnya
beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang
yang mengotorinya.
Dari Paparan di atas penulis berkesimpulan bahwa
tasauf adalah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana cara agar tercapai karakter
mulia melalui penyucian hati.
2. Esensi Tasauf
Esensi dalam kamus besar bahasa
indonesia mengandung arti hakikat atau hal pokok.[6]
Dalam ilmu tasauf yang menjadi
esensinya adalah tariqah, maqamat dan ahwal. Mahqamat berarti
jalan panjang yang ditempuh oleh seorang sufi untuk berada sedekat mungkin
dengan Allah baik melalui ibadah maupun mujahadah.[7] Adapuh
ahwal menurut bahasa adalah jamak dari kata tunggal hal yang berarti
keadaan sesuatu (keadaan rohani). Imam Alghazali mengartikan hal adalah
kedudukan atau sistuasi kejiwaan yang dianugerahkan Allah kepada seorang hamba
pada suatu waktu baik sebagai buah dari amal sholeh yang mensucikan jiwa.
Maupun sebagai pemberian semata. Harun nasution mendefenisikan hal sebagai
keadaan mental seperti perasaan senang, perasaan sedih, perasaan takut dan
sebagainya. [8]
Tanggapan penulis:
Jika berpedomandari kedua pendapat di atas maka tidak ada
perbedaan. Intinya hal adalah keadaan rohani seorang hamba ketika
hatinya telah bersih dan suci.
Memperhatikan pentingnya penyucian
hati maka dalam menetapkan esensi ajaran tasawuf terdapat dua
pandangan berbeda. Pendapat pertama, memandang bahwa ajaran tasawuf adalah
zuhud. Yaitu, cara hidup yang terkonsentrasi penuh dengan ibadah kepada Allah,
dan meninggalkan kemewahan dan perhiasan duniawi. Menurut pandangan ini, figur
seorang sufi sejati adalah Hasan Basri, Sofyan al-Tsauri dan para sahabat Nabi
seperti Abu Dzar al-Ghafiri, Abu Hurairah dan lainnya. Pendapat kedua,
menjelaskan bahwa tasawuf sesungguhnya adalah pencapaian penghayatan batin
sampai ke fana’ dan ma’rifat kepada Allah SWT.
Beberapa pandangan ahli tentang apa yang dimaksud dengan tasawuf, antara
lain: Pertama: Al-Hujwiri, menyebutkan bahwa tasawuf itu berarti suci, lawan
dari kotor. Tasawuf juga berarti hanya melihat kepada Allah semata-mata-mata.
Barangsiapa yang memberikan perhatian pada makhluk maka ia akan binasa dan
siapa saja yang memgembalikan sesuatu kepada yang memiliki (Allah) maka ia akan
mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Imam Junayd berkata, Tasawuf adalah satu
sifat yang di dalamnya terletak kehidupan manusia artinya hakikat tasawuf adalah
bahwa sifat Tuhan dan sifat manusia lenyap pada hakikat Tuhan. Abu al-Hasan
Nuri mengatakan, Tasawuf adalah penyangkalan terhadap semua kesenangan diri
sendiri. Artinya, yang dimaksud dengan tasawuf adalah sifat yang meninggalkan
segala kesenangan diri. Muhammad bin Ali bin Husen bin Ali bin Abi Thalib
menyebut, Tasawuf adalah kebaikan budi pekerti yang lebih baik; orang yang
mempunyai budi pekerti lebih baik adalah sufi lebih baik.[9]
Kedua : Muhammad Al-Jariri (w.311H) berkata, bahwa tasawuf ialah: mengerjakan
akhlak yang baik dan meningalkan akhlak yang buruk. Al-Kattani (w.222H)
mengatakan :Tasawuf ialah akhlak, barang siapa yang bertambah akhlaknya
bertambah pula tasawufnya.[10]
Ketiga: Tasawuf pada dasarnya adalah
berusaha mencintai Allah, Abu al-Hawary berkata ; bahwa tanda orang yang cinta
pada Allah adalah cinta pada taat dan dzikir kepada Allah. Bukti cinta kepada
Allah itu adalah berupaya secara sungguh-sungguh untuk mendapatkan ridha Allah.
Ia melanjutkan bahwa orang yang tahu tentang dunia maka ia akan zuhud
terhadapnya, siapa yang mengenal akhirat maka ia akan mengingininya dan
barangsiapa yang kenal akan Allah maka ia akan berusaha mendapatkan ridha-Nya. [11]
B.
Eksistensi Tasauf
Kamus besar bahasa indonesia menjelaskan, Eksistensi artinya keberadaan,
mengandung makna ada tidaknya sesuatu itu di suatu tempat dan masa tertentu,
bahkan kajian eksistensi dapat meluas menelusuri perkembangan dari keberadaan
sesuatu yang melingkupi peran dan kesejarahannya.
Terlepas dari penjelasan diatas penulis ingin mengungkap suatu
kasus, terjadi di negeri belanda. Seorang
Guru-Besar ilmu fisika meninggal dunia dengan cara jang amat mengejutkan
namanya Paul Ehrenfest seorang terpelajar tejadi di negeri belanda. Seorang
intelek dengan-arti yang penuh. Ia berasal dari pamili jang baik. Setelah ia
melakukan perbuatan tercela itu semua orang menjadi kaget. Kenapa bisa
terjadi, Tentu ada satu rahasia
kehidupannya yang tidak diketahui orang luar... ! Dari suatu surat jang
ditinggalkannja untuk teman sejawatnja yang paling rapat, yakni Prof.
Kohnstamm, njatalah, bahwa perbuatan jang menewaskan dua jiwa itu bukan suatu
pekerdjaan terburu nafsu, melainkan suatu perbuatan jang telah difikir lama,
berasal dari suatu perdjuangan ruhani jang telah mendalam, jang tak dapat
diselesaikannja dengan lautan ilmu jang ada padanja itu. Ternjatalah dari
surat-nja bahwa mahaguru ini kehilangan ideal, kehilangan tudjuan-hidup!
Pendidikan jang diterimanya dari kecil adalah pendidikan sekuler yang jauh dari
nilai-nilai agama dan tauhid.[12]
Tanggapan Penulis:
Dari kasus tersebut jelaslah akibat dari orang yang jauh dari
nilai-nilai agama dan tauhid.
Menyikapinya Dalam kehidupan masyarakat modern seperti sekarang
ini, keberadaan tasauf tetap dibutuhkan
dalam membimbing masyarakat menuju jalan kedamaian ditengan kehidupan modern
yang dirasakan semakin gersang dan memudarnya nilai-nilai agama. Tidak dipungkiri
lagi bahwa tasauf bagi kalangan masyarakat modern seperti sekarang ini tetap
dibutuhkan keberadaannya. Pada saat ini hati manusia sudah terkikis oleh
pandangan dunia materialistis yang berfikir serba kebendaan. Dengan demikian
tasauf merupakan alternatif bagi pelarian masyarakat modern yang ingin
mempertajam mata hati menuju jalan tuhan dan kebahagiaan.[13]
Analisa penulis :
Melihat penjelasan perlunya keberadaan tasauf seperti penjelasan di
atas penulis dapat berkata bahwa orang tidak akan bisa bahagia jika dia jauh
Tuhan dan jauh dari nilai-nilai agama. Berapapun tinggi ilmu pengetahuannya.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kesimpulan dari pembahasan makalah
ini adalah Esensi tasauf adalah suatu cara untuk meggapai kesucian hati melalui
ketekunan beribadah, berakhlak baik, menjauhi kemewahan dan kemerlapan duniawi,
untuk meraih ridha Allah SWT. Bagi kalangan masyarakat modern seperti sekarang
ini tetap dibutuhkan keberadaannya. Pada saat ini hati manusia sudah terkikis
oleh pandangan dunia materialistis yang berfikir serba kebendaan. Dengan
demikian tasauf merupakan alternatif bagi pelarian masyarakat modern yang ingin
mempertajam mata hati menuju jalan tuhan dan kebahagiaan
B.
Saran
1.
Harapan
penulis setelah membahas esensi dan eksistensi tasauf ini adalah pembaca
bertambah ilmu dan wawasannya.
2.
Dengan
bertasauf seseorang akan terhindar dari
perbuatan-perbuatan yang yang tidak terpuji atau perbuatan-perbuatan yang melampaui
batas yang dapat menjauhkan seseorang tersebut dari Allah SWT
DAFTAR
PUSTAKA
Nurcholish
Madjid, Islam Agama Peradaban: Membangun Makna dan Relevansi Doktrin Islam
dalam Sejarah, Cet. IV; Jakarta: Paramadina, 1995
Nurcholish
Madjid, Islam Agama Peradaban: Membangun Makna dan Relevansi Doktrin Islam
dalam Sejarah
Rivai
Siregar, Tasawuf: Dari Sufisme Klasik ke Neo Sufisme, Cet. I; Jakarta:
Raja Grafinndo Persada, 1999
Haidar Bagir, Buku Saku Tasauf, Bandung : PT. Mizan, 2005
Kamus Besar Bahasa Indonesia
Duski
Samad, 30 September 2019 tersedia di
Imam
Qusyairi, al-Naysaburi, Risalah Qusyairiyah fi ‘ilm al-Tasawwuf, Qairo:
Muhammad Ali Shubaih, 1966
Muhammad bin Musa, Thabaqâti al- Shûfiyah, Leiden, E. J.
Brill, 1960
Muhammad Natsir, Kapita Selekta, Jakarta : Sumup Ban6uq
Samsul Munir, Ilmu Tasauf, Jakarta: Amzah, 2012
[1] Nurcholish
Madjid, Islam Agama Peradaban: Membangun Makna dan Relevansi Doktrin Islam
dalam Sejarah (Cet. IV; Jakarta: Paramadina, 1995), h. 91
[2] Nurcholish
Madjid, Islam Agama Peradaban: Membangun Makna dan Relevansi Doktrin Islam
dalam Sejarah, h. 91.
[3] Rivai Siregar,
Tasawuf: Dari Sufisme Klasik ke Neo Sufisme, (Cet. I; Jakarta: Raja
Grafinndo Persada, 1999)h. 32
[4] Ibid h. 33
[5] Haidar bagir, Buku
Saku Tasauf (bandung : PT. Mizan, 2005), h. 95
[6] Kamus Besar
Bahasa Indonesia
[7] Op. Cit h.
58
[8]
M. Nasrullah, 07 Oktober 2019, tersedia di http://sufiroad.blogspot.com/2010/08/tauhiddanmafrifatullah.html
[9]
Duski Samad, 30 September 2019 tersedia di
http://tuankumudoduskisamad.blogspot.com/2010/05/esensi
-tasawuf1.html
[10] Imam Qusyairi,
al-Naysaburi, Risalah Qusyairiyah fi ‘ilm al-Tasawwuf, (Qairo: Muhammad
Ali Shubaih, 1966),h. 18
[11] Muhammad bin
Musa, Thabaqâti al- Shûfiyah. (Leiden, E. J. Brill, 1960) h. 90.
[12] Muhammad
Natsir, Kapita Selekta, (Jakarta : Sumup Ban6uq), h. 116
[13] Samsul Munir, Ilmu
Tasauf, (Jakarta: Amzah, 2012), h. 57
Komentar
Posting Komentar