Prot. Dr. H. Samsul Nizar, M.Ag
SEJARA
MENELUSURI JEJAk SEJARAH ER
o 2007 S Cetakan Ke-l
Edisi Pertama,
NDIDIKAN ISLAM
RASULULLAH SAMPA INDONESIAA
ana 2007.0173
SEJARA
MENELUSURI JEJAk SEJARAH ER
o 2007 S Cetakan Ke-l
Edisi Pertama,
NDIDIKAN ISLAM
RASULULLAH SAMPA INDONESIAA
ana 2007.0173
Hak Penerbitan pada P'renada Media
Diaran Ca pengenaan tes
temasuk derngan cau
rin sebagian atau seltrh tst buka mi dengan cara
apa pun,
fotokopt, anpa tzm sah dari penerbit
Jakarta Putra Grafika
Fajar Interpratama Offset
Linda Safitri
COve
Lay-out
Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam lerbitan (KDT)
PROE DR. H. SAMSUL NIZAR, M.AG.
etakan
Sejarah Pendidikan Islam:
Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia
Jakarta: Kencana, 2007
Ed. 1 Cet. 1; xXX, 300 him; L5 cm
297.75
ISBN 978-979-1486-00-2
Cetakan ke-1, Agustus 2007
S
KENCANA
PRENADA MEDIA GROUP
JI. Tambra Raya No. 23
Rawamangun Jakarta 13220
Telp. (021) 478-64657, 475-4134
Fax. (021) 475-4134
pmg@prenadamedia.com
INDONESlA
19
SEJARAH DAN DINAMIKA
LEMBAGA-LEMBAGA
PENDIDIKAN ISLAM DI NUSANTARA
Surau, Meunasah, Pesantren Dan Madrasah
Oleh: Abasri
A PENDAHULUAN
Perkembangan pendidikan Islam di Indonesia antara lain ditandai oleh
munculnya berbagai lembaga pendidikan secara bertahap, mulai dari yang
amat sederhana, sampai dengan tahap-tahap yang sudah terhitung modern
dan lengkap. Lembaga pendidikan Islam telah memainkan fungsi dan
perannya sesuai dengan tuntutan masyarakat dan zamannya. Perkembangan
lembaga-lembaga pendidikan tersebut telah menarik perhatian para ahli
baik dari dalam maupun luar negeri untuk melakukan studi ilmiah secara
konfrehensif. Kini sudah banyak hasil karya penelitian para ahli yang
menginformasikan tentang pertumbuhan dan perkembangan lembaga-lemba-
ga pendidikan Islam tersebut. Tujuannya selain untuk memperkaya khazanah
ilmu pengetahuan yang bernuansa keislaman, juga sebagai bahan rujukan
dan perbandingan bagi para pengelola pendidikan Islam pada mása-masa
berikutnya. Hal ini sejalan dengan prinsip yang umumnya dianut masyarakat
Islam Indonesia, yaitu mempertahankan tradisi masa lampau yang masih
baik dan mengambil tradisi baru yang baik lagi. Dengan cara demikian,
upaya pengembangan lembaga pendidikan Islam tersebut tidak akan tersera
but dari akar kulturnya secara radikal.
D. SEIARAH DAN DINAMIKA LEMBACGA-LEMBAGA
PENDIDIKAN DI NuSANTARA
Surau
embahasan teritang surau sebagai lemlbagn Petioidhkan fslam di Minang
kcabau, hanya dipaparkan sekitar awal perturnbubat surau sanpal dengan
meredupnya pamor surau. Kondisi ini dilatarbelalkangl deigan lahirTiya
gerakan pembaruan di Minangkabau yang ditarnidai dengan berdirinya rniadra-
salh sebagai pendidikan alternatit
Istilah surau di Minangkabau sudah dikenal sebelum datangnya Islam,
Surau dalam sistem adat Minangkabau adalah kepurnyaan suku atau kaum
Sebagal pelengkap rumah gadang yang bertungsi sebagal tempat bertemu,
Derkumpul, rapat, dan tempat tidur bagi anak laki-laki yang telah akil
baligh dan orang tua yang uzur' Fungsi surau ini semakin kuat posisinya
karena struktur masyarakat Minangkabau yang menganut sistem
Matrilineal," menurut ketentuan adat bahwa laki-laki tak punya kamar di
ah orang tua mereka, sehingga mereka diharuskan tidur di surau
Kenyataan ini menyebabkan surau menjadi tempat amat pentng bagi
pendewasaan ge-nerasi Minangkabau, baik dari segi lmu pengetahuan
maupun keterampilan praktis" lainnya.
Fungsi surau tidak berubah setelah kedatangan islam, hanya saja fungsi
keagamaannya semakin penting yang diperkenalkan pertama kali oleh Syekh
Burhanuddin di Ulakan, Pariaman. Pada masa ini, eksistensi surau di
samping sebagai tempat shalat juga digunakan Syekh Burhanuddin sebagai
tempat mengajarkan ajaran Islam, khususnya tarekat (suluk
Melalui pendekatan ajaran tarekat (suluk) Sattariyah, Syekh Burhanud-
din menanamkan ajaran Islam kepada masyarakat Minangkabau. Dengan
ajarannya yang menekankan kesederhanaan, tarekat Sattariyah berkembang
dengan pesat. Muridnya tidak hanya berasal dari Ulakan-Pariaman saja
Azyumardi Azra, Pendidikan Islan Tradisi dan Modernisasi Menuju Millenium Baru,
Samsul Nizar, Sejaralh dan Pergolakan Penikiran Pendidikan Islan, (Ciputat: Quan-
Surau sangat kental dengan pengajaran agamanya. Di samping itu, hampir setiap
(Ciputat: Logos, 1999), h. 130.
tum Teaclhing, 2005). h. 70.
surau di Minangkabau selain mengjarkan agama, juga identik dengan mengjarkan silat
yang berguna untuk mempertahankan diri dan mengajarkan adat-istiadat khususnyapepatalh
petitih serta tradisi anak nagari lainnya.
lhid, h. 71
280
BAB 19
melalns ban juga berasal dari daerah-daerah lain di Minangcaban. seper
wanku Mansi
ye enikan sluran Paninjauan dan Tuanlku
k yang mendirikan sural dt hoto Gadang" Sehingga pada a
y
turid s
ng dalam pengen
Syelkh Burhantiddin tersebut memainkan peranan yang8 Saga
g
suran sebiagal lembaga pendidikan bag) gene
pent
rast selanjutny.
nendidikan ealkiginl Nateri pendidikan yang d
itmu keislaman ltt, Seper Kemanan, akhlak dan ibadah. Pada umumnya
pert idikan ini diaksaakan pada malam hari.
mengalami kemajuan. Adta dua jenjang pendidikan surau pada era in, yaitt
sebagai lembaga peniaikan tracdisiOnal, surau menggunakan sistem
diajarkan pada awalnya masih
putar belajar hurut hijaiah dan membaca Al-Quran, di sanping inu
Secara bertahap, eksisitensi surau sebagai lembaga pendidikan Islam
Pengajaran A-Qur'an. Untuk mempelajari Al-Qur'an ada dua macam
tingkatan
) Pendidikan Rendah, yaitu pendidikan untuk memahami cjaan hurut
Al-Qur'an dan membaca A-Qur'an. Di samping itu, juga dipelajari
cara berwudhu dan tata cara shalat yang dilakukan dengan metode
praktik dan menghatal, keimanan terutama yang berhubungan dengan
sifat dua puluh yang dipelajari dengan menggunakan metode
menghafal melalui lagu, dan akhlak yang dilakukan dengan cerita
tentang nabi dan orang-orang shaleh lainnya.
2) Pendidikan Atas, yaitu pendidikan membaca Al-Qur'an dengan lagu,
kasidah, berzanji, tajwid dan kitab parukunan.
Lama pendidikan di kedua jenis pendidikan tersebut tidak ditentu
kan. Seorang siswa baru dikatakan tamat bila ia telah mampu mengua
sai materi-materi di atas dengan baik. Bahkan adakalanya seorang
siswa yang telah menamatkan mempelajari A-Qir an dua atau tiga
kali baru berhenti dari pengajaran AFQuran.
b. Pengajian Kitab
Materi pendidikan pada jenjang ini meliputi; ilmu sharaf dan nahu,
ilmu fikih, ilmu tafsir, dan ilmu-ilmu lannya. Cara mengajarkannya
adalah dengan membaca sebuah Kitab Arab dan kemudian diterjemahkan
ke dalam bahasa Melayu. Setelah itu baru diterangkan maksudnya. Pene
kanan pada jenjang ini adalah pada aspek halalan. Agar siswa cepat
Ihidl, h. 72.
281
hafal, maka metode pengajarannya dilakukan melalui cara melafalkan
materi dengan lagu-lagu terterntu. Pelaksanaan pendidikan pada jenjang
ini biasanya dilakukan pada siang maupun malam hari.
Pada masa awal, kitab yang dipelajari pada masing-masing mnateri pen-
didikan masih mengacu pada satu kitab tertentu. Setelah ulama Minangkaba
yang belajar di Timur Tengah kembali ke tanah air, sumber yang digunakan
mulai mengalami pergeseran. Kitab yang digunakan pada setiap materi
pendidikan sudah bermacam-macam. Terjadinya pencerahan semacam ini
disebabkan karena ulama-ulama yang pulang tersebut tidak dengan tangan
hampa melainkan juga dengan membawa sumber-sumber (kitab) yang banyak
sekal.
Metode pendidikan yang digunakan di surau ila dibandingkan dengan
metode pendidikan modern, sesungguhnya metode pendidikan surau memiliki
kelebihan dan kelemahannya. Kelebihannya terletak pada kemampuan meng
hafal muatan teoretis keilmuan. Sedangkan kelemahannya terdapat pada
lemahnya kemampuan memahami dan menganalisis teks. Di sisi lain, metode
pendidikan ini diterapkan secara keliru. Siswa banyak yang bisa membaca
dan menghafal isi suatu kitab, akan tetapi tidak DISa menuis apa yang di-
baca dan dihafalnya itu"
Surau tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan lslam tetapi
juga sebagai lembaga pendidikan tarekat. Fungsi surau yang kedua ini lebih
dominan dalam perkembangannya di Minangkabau. Setiap surau di Minang
kabau memiliki otoritasnya sendiri, baik dalam praktik tarekat maupun
penekanan cabang ilmu-ilmu keislaman. Praktik tarekat yang dikembangkan
oleh masing-masing Surau tersebut lebih banyak muatan mistisnya ketimbang
syariat. Gejala ini dapat diketahui, meskipun Islam sudah dianut masyarakat
tetapi praktik-praktik yang bertentangan dengan syariat masih dilakukan
terutama para penguasa (kaum adat).
Melihat kondisi masyarakat yang demikian, maka Syekh Abdurrahman,
salah seorang ulama dari Batu Hampar, berupaya menyadarkan umat dengan
pendekatan persuasif dan ia pun berhasil. Keberhasilannya ini tidak serta
merta menghilangkan praktik bid'ah dan khurafat di sebagian daerah lain.
Untuk memberi pemahaman kepada masyarakat mengenai ajaran agama
Islam, maka Syekh Abdurrahman mendirikan surau yang terkenal dengan
Surau Dagang. Di surau inilah Syekh Abdurrahman mengajarkan AF
lbid., h. 73-74
Azyumardi Azra, Op. cit., h. 133.
282
BAB 19
dengan berbagai mnacam irama dan imu-ilmu keislaman lainnya
an
dann
demikian itu membuat suasana semakin memanas o
Ke
dan
asvarakat dalam dua kubu. Kubu pertama yang menolak pem
oemba d dimotori oleh kaum adat yang dibantu kolonial Belanda, dan
barti yane kedua diwakili oleh pemuka agama (kaum Padri) yang sudah
Dengan momentut eplulangan iga serangkai' H. Miskin dari Pandai
kubu
at praktik Keniaupan yang Sudah jauh dari nilai-nilai agama.
1. h 10 obang dari Agam dan H. Sumanik dari Batusangkar dari Mekkah,
uan tetapi dengan pendekatan yang keras dan
lakukan pembarua
al Ulama-ulama ini juga dibantu oleh ulama-ulama yang lain seperti
Nan Renceh dan T uanku di Agam yang bergelar "Harimau Nan
Tuanku
Salapan.
Isaha yang dilakukan kaum Padri, sekurang-kurangnya telah berhasil
embangkitkan semangat nasionalisme umat lslam dalam menentang
penjajah. Meskipun paaa akhirnya gerakan ini gagal membumikan ide
pembaruannya."
Surau sebagai lembaga pendidikan Islam mulai surut peranannya karena
disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, selama perang Padri banyak surau
ang musnah terbakar dan syekh banyak yang meninggal, kedua, Belanda
mulai memperkenalkan sekolah nagari, ketiga, kaum intelektual muda
muslim mulai mendirikan madrasah sebagai bentuk ketidaksetujuan mereka
terhadap praktik-prakuk surau yang penuh dengan khurafat, bid'ah dan
takhayul.
Ekspansi yang dilakukan kaum intelektual muda dengan mendirikan
madrasah telah mengacam keberadaan surau sebagai lembaga pendidikan.
Untuk menjaga eksistensinya, Ulama Iradisional mengadakan rapat besar
yang diselenggarakan di Bukittinggi tanggal 5 Mei 1930 yang menghasilkan
keputusan untuk membentuk Persatuan larbiyah Islamiah (PT). Keputusan
lain dari rapat itu adalah bahwa lembaga-lembaga pendidikan slam yang
tergabung ke dalam PTl harus dimodernisasi mengikuti pola yang dikembang
kan Kaum Intelektual Muda. Dengan demikian, Ulama Tradisional tidak
punya alternatif untuk menyelamatkan sistem pendidikan surau kecuali
merombaknya seperti yang dilakukan oleh Kaum Intelektual Muda
Dalam posisinya sebagai lembaga pendidikan Islam, posisi surau sangat
Strategis baik dalam proses pengembangan Islam maupun pemanaman
Ibid, h. 76-85.
Tbid., h. L46.
283
SEARAH PENDIDIKAN 1SLAM
ahkan surau tetan anpu mencetak
mbuhkan semangat nasionalis
lonialisme Belanda. Di antara paru alu
enadap ajaran-ajaran 1sla
ua besar Minangkabau dan ie
terutama dalam mengusi
Pendidikan Surau itu adalah laji KIS,
Minangka
Ahmad
lsur, Abdullah Ani
Lan tiamka ""
2. Meunasah
berasal dari kata Arab Madrasah. Meunasah merupakan
yang terdapat di setiap gampong tkalnpung, desa. Bangunan in
Meunasah merupakan tingkat pendidikan 1slam terendah. Meunasah
satu bang nan
perti
rumah tetapi tidak mempunyai jendela dan bagian-bagian lain. Bangunan
ini digunakan sebagai tempat belajar dan DeraiskKUsi Serta membicara
masalah-masalah yang berhubungan dengan kemasyarakatan. Di sa anping
itu, meunasah juga menjadi tempat bermalam pala anak-anak muda sers
or ang laki-laki yang tidak mempunyai istri. Setelah Islam mapan di Aceh
meunasah juga menjadi tempat shalat bagi masyalakat dalan satu pong.
Meunasah secara fisik, adalah bangunan rumah panggung yang dibna
pada setiap kampung, setiap kampung terdiri dari 40 rumah dan dikett
oleh keucik. Dalam meunasah terdapat sumur, bak air, dan WC yang terlets
berjarak dengan meunasah. Biasanya meunasah terletak di pinggir jalan
Di antara fungsi meunasah itu adalah:
a. Sebagai tempat upacara keagamaan, penerimaan zakat dan tempat penya-
lurannya, tempat penyelesaian perkara agama, musyawarah dan mene-
rima tamu.
b. Sebagai lembaga pendidikan Islam di mana diajarkan pelajaran membaca
Al-Qur'an. Pengajian bagi orang dewasa diadakan pada malam hari ter
tentu dengan metode ceramah dalam satu bulan sekali. Kemudian, pada
hari jumat dipakai ibu-ibu untuk shalat berjamaah zuhur yang diteruskan
pengajian yang dipimpin oleh seorang guru perempuan.
Dalam perkembangan lebih lanjut, meunasah bukan hanya berfungsi
sebagai tempat beribadah saja, melainkan juga sebagai tempat pendidikan,
tempat pertemuan, bahkan juga sebagai tempat transaksi jual beli, terutama
Samsur Nizar, Op. cit., h. 86.
"Abuddin Nata (Ecditor), Sejarah Pertunbuhan dan Perkembangan Lenbago-lcn
Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Grasindo, 2001), h. 42.
lhid., h. 42
284
Komentar
Posting Komentar